• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Privacy Policy

Catatan Materi Musculoskeletal

 

BAB I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang
Sistem muskuloskeletal bekerja membuat gerkan dan tindakan yang harmoni sehingga manusia menjadi seseorang yang belas dan mandiri. Sistem muskuloskeletal terdiri dari kerangka, sendi, otot, ligamentum dan bursa. Krangka membentuk dan menopang tubuh, melindungi organ penting dan berperan sebagai penyimpan mineral tertetnu seperti kalsium, magnesium, dan fosfat.
Rongga medula tulang adalah tempat utama yang memproduksi sel darah. Otot memberikan kekuatan untuk menggerakan tubuh, menutup lubang luar dari sistem gastrointestinal dan saluran kencing serta meningkatkan produksi panas untuk menjaga kontrol temperatur. Kira-kira 40% dari seluruh tubuh terdiri dari otot rangka dan barangkali 10% lainnya adalah otot polos dan otot jantung.
Pebuhana terjadi selama kanak-kanak dan dewasa karena cepatnya pertumbuhan dan perkembangan, atau mulai padat massa maturitas ke masa usia tua. Perubahan struktur dan fungsi muskulosskeletal, bervariasi elama proses penuaan pada tiap individu.
1.2    Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memnuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawataan Medikal Bedah (KMB III) dan untuk mengetahui jenis fraktur dan penatalaksanaannya pada klien yang mengalami fraktur tersebut.
1.3    Metoda Penulisan
Metode penulisan yang penulis gunakan adalah dengan studi kepustakaan.
1.4    Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini kami susun sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN yang berisi tentang latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika.
BAB II KAJIAN TEORI yang memuat tentang pengertian, manifestasi klinis, jenis fraktur, faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur, pemeriksaan pada penderita fraktur tulang, asuhan keperawatan dan intervensi keperawatan.
BAB II
KAJIAN TEORI



2.1    Pengertian
Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh, atau terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Meskipun tulang dapat patah secara spontan seperti terjadi dalam osteomalacia dan osteomyelitis, tetapi kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang seperti pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan kontraksi otot ekstrim.
Meskipun tulang patah, jaringan sekitarnya juga akan terpengaruh ; mengakibatkan edema jaringan linak keotot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendo, kerusakan saraf pembuluh darah. Organ tubuh dapat mengelami cedera akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau akibat fragmen tulang.
Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau luka yang disebabkan oleh kecelakan kendaraaan bermotor, sedangkan pada orang tua, wanita lebih sering mengalami fraktur daripada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya insidensi osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon pada menopause.

2.2    Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis tanda dan gejala dari fraktur bervariasi kedalam beberapa tingkatan yang berdasarkan pada sebab, lokasi, tipe, klasifikasi dan kelurusan bagian yang sakit.
Gejala fraktur yang paling umum adalah rasa sakit, pembengkakan lokal dan kelainan bentuk. Rasa sakit akan bertambah berat dengan gerakan dan penekanan diatas fraktur dan mungkin terkait juga dengan hilangnya fungsi.
Pembengkakan ditempat fraktur mungkin merupakan tanda awal dari kasus ini, saat pembengkakan meningkat rasa sakit akan meningkat pula. Tanda spesifik yang paling banyak pada kasus fraktur adalah terjadinya kelainan bentuk (deformitas), sebagai gejala-gejala lain yang mungkin muncul dengan sprain atau strain. Gejala lain yang mungkin muncul adalah perubahan warna dan krepitasi. Tentu saja, jika terdapat luka terbuka, maka terdapat pula perdarahan.
1)    Nyeri terus-menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang dimobilisasi. Spasme otot menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan anatar fragmen tulang.
2)    Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti normalnya. Pergesran pragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas.
3)    Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.
4)    Saat ekstrimitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepting yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.
5)    Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.

Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur. Kebanyakan justru tidak ada pada fraktur linear atau fraktur impaksi (permukaan patahan saling terdesak satu sama lain).

2.3    Jenis Fraktur
a.    Fraktur yang diklasifikasikan berdasarkan pada patahnya integrita kulit, lokasi, bentuk patahan dan status kelurusan :
1)    Closed Fracture (Simple Fracture) yaitu fraktur yang tertutup karena integritas kulit masih utuh/tetap tidak berubah.
2)    Open Fracture (Compound Fracture) yaitu fraktur terbuka karena integritas kulit robek atau terbuka dan ujung tulang meonojl sampai menembus kulit.
3)    Complete Fracture yaitu fraktur kulit yang retak atau patah tulang yang luas dan melintang. Biasanya disertai dengan perpindahan posisi tulang.
4)    Retak tidak komplit yaitu hanya sebagian dari tulang yang retak.

b.    Fraktur yang diklasifikasikan berdasarkan tipe fraktur yang retak
1)    Oblique yaitu fraktur yang memiliki arah miring.
2)    Spiral yaitu fraktur meluas yang mengelilingi tulang.
3)    Tranverse yaitu fraktur luas yang melintang dari tulang.
4)    Segmental yaitu ada segmen tulang yang retak dan ada yang lepas.
5)    Comminuted yaitu fraktur yang mencakup bebrapa fragmen.

2.4    Fraktur yang mempengaruhi penyembuhan fraktur
1.    Faktor yang meningkatkan penyembuhan fraktur
a.    Imobilisasi fragmen-fragmen tulang.
b.    Kontak fragmen tulang maksimum.
c.    Suplai darah cukup.
d.    Nutrisi tepat.
e.    Latihan pembebasan berat badan untuk tulang panjang.
f.    Hormon-hormon pertumbuhan, tyroid, kalsitonin, vitamin D, steroid anabolik.
g.    Potensial listrik yang melewati fraktur.

2.    Faktor yang menghambat penyembuhan tulang
a.    Trauma lokal berlebihan.
b.    Kehilangan tulang.
c.    Imobilisasi tidak adekuat.
d.    Ruang/jaringan diantara fragmen tulang.
e.    Infeksi.
f.    Keganasa lokal.
g.    Penyakit tulang metabolik (misalnya : penyakit paget).
h.    Tulang radiasi (nekrosis radiasi).
i.    Nekrosis avaskular.
j.     Fraktur intra-artikular, (cairan sinovial yang mengandung fibrolisin, yang melisiskan bekuan awal dan memperlambat pembentukan bekuan).
k.    Usia (lansia sembuh lebih lama).
l.    Kortikosteroid (menghambat kecepatan perbaikan).

2.5    Pemeriksaan pada penderita fraktur tulang
Pemeriksaan awal terhadap pasien yang mungkin menderita fraktur tulang sama dengan pemeriksaan pada pasien yang mengalami luka pada jaringan lunak yang berhubungan dengan trauma. Perawat menilai pada tanda dan gejala. Setelah bagian yang retak telah di-imobilisasi dengan baik, kemudian perawat akan menilai adanya  P5 yaitu : Pain (rasa sakit), paloor (Kepucatan/perubahan warna), paralysis (kelumpuhan/ketidakmampuan untuk bergerak), paresthesia (rasa kesemutan) dan full selessness (tidak adanya denyut) untuk menentukan status neurovaskuler dan fungsi motor pada bagian distal fraktur.
Rontgen sinar-X pada bagian yang sakit merupakan perangkat diagnostik definitif yang digunakan untuk menentukan adanya fraktur. Meskipun demikian, beberapa fraktur mungkin sulit untuk dideteksi dengan menggunakan sinar-X pada awalnya sehingga akan membutuhkan evaluasi radiografi pada hari berikutnya untuk mendeteksi bentuk callus. Jika dicurigai adanya perdarahan maka dilakukan pemeriksaan complete blood count (CBC) untuk menilai banyaknya darah yang hilang. Lebih lanjut, perawat akan menilai komplikasi yang mungkin terjadi dan menentukan bebrapa faktor resiko terhadap komplikasi dimasa depan.

2.6    Asuhan Keperawatan
Perawatan fraktur diarahkan pada pelurusan kembali fragmen tulang, imobilisasi untuk mempertahankan pelurusan kembali bagian yang mengalami fraktur.
Adapun tindakan perawatan yang harus dilakukan :
1.    Pembidaian
Bagian yang sakit harus di-imbolisasi dengan menggunakan bidai pada tempat yang luka sebelum memindahkan pasien. Pembidaian mencegah luka dan nyeri yang lebih jauh dan mengurangi kemungkinan adanya komplikasi seperti sindrom emboli lemak. Topanglah ekstremitas bagian atas dengan menggunakan kain penopang (sling) atau papn yang dipasang sepanjang lengan bagian bawah atau sampai diatas sikut, jika tidak tersedia perangklat penopang lengan dapat dibidai dengan bagian tubuh lainnya. Pembidaian pada ektrimitas bawah dengan menempatkan objek keras dibawah kaki atau dengan penopang kaki yang sakit dengan kaki yang sehat. Alat penopang leher, handuk atau pakaian yang digulung, maupun kantong pasir dapat digunakan untuk imobilisasi pada kasus yang dicurigai mengalami fraktur leher.
2.    Gips
Pemberian gips merupakan perawtan utama setelah reduksi tertutup dalam perbaikan fraktur dan dapat dilakukan bersamaan dengan perawatan lainnya.
Ada dua tipe cetakan Gips :
a)    Gips plester yaitu harus dalam bentuk kering ketika digunakan, dalam waktu sekitar 48 jam. Gips basah harus dipegang dengan telapak tangan, untuk mencegah melekuknya gips. Jika menggunakan  pengering gips, hindarilah panas berlebihan karena dapat membakar pasien, gips gampang pecah atau kering. Bantulah pasien berpindah tempat setiap 2-3 jam untuk mencegah daerah penekanan.
b)    Gips sintetis, yaitu digunakan untuk proses imobilisasi fraktur yang tidak parah dengan pembengkakan minimal dan dapat dipakai dalam jangka waktu yang lama. Gips ini dapat mengeras dalam beberapa menit dan dapat menopang berat dalam setengah jam.
3.    Traksi
Traksi adalah upaya yang menggunakan kekuatan tarikan untuk meluruskan an imobilisasi fragmen tulang, mengendorkan spasmus otot dan memperbaiki kontraktur fleksi, kelainan bentuk dan diisolasi.
Terdapat dua tipe traksi yaitu :
a)    Traksi kulit
-    Traksi halter leher kepala, digunakan untuk rasa sakit, strain dan salah urat pada leher.
-    Traksi russel, digunakan untuk mengangkat keatas yaitu berupa sling (bidai) dibawah lutut atau paha bagian bawah.
-    Traksi peluis, digunakan untuk fraktur panggul.
b)    Traksi tulang
-    Penjepit treinmann, merupakan perangkat yang dimasukan kedalam batang tulang kemudian diikat dengan perangkat traksi.
-    Traksi kepala atau tengkorak, yang dimasukan kedalam tengkorak dan diikat pada beban.
-    Perangkat halo (lingkaran) diikat pada tulang tengkorang dan rompi dipasang pada torso.

2.7    Intervensi Keperawatan
1.    Meredakan nyeri
Nyeri bedah dapat dikontrol segera dengan analgetika opoid atau evaluasi hematoma atau cairan yang terkumpul.
2.    Mempercepat penyembuhan luka
Setiap kali penggantian balutan diperlukan tehnik aseptik untuk mencegah infeksi luka dan kemungkinan osteomilitis.
3.    Memperbaiki citra tubuh
Perawat yang telah membangun hubungan saling percaya dengan pasien sebaiknya berkomunikasi mengenai penerimaan pasien yang baru menjalani amputasi.
4.    Mengatasi berduka
Perawat harus memahami kehilangan tersebut dengan mendengarkan dan memberi dukungan. Dukungan dari keluarga dan sahabat dapat meningkatkan penerimaan terhadap kehilangan.
5.    Perawatan mandiri
Pasien didorong  menjadi partisipan yang aktif dalam perawatan diri.
6.    Penembalian mobilitas fisik
Bila amputasi bukan merupakan prosedur darurat, harus diusahakan sebelum operasi memperkuat ektremitas superior selain otot batang tubuh dan otot abdomen.
7.    Latihan pascaoperasi
Latihan rentang gerak dimulai sesegera mungkin karena deformitas kotraktur terjadi cepat.
8.    Pemantauan dan penanganan komplikasi potensial
Setiapselesai pembedahan, harus selalu diusahakan pengembalian homeostatis dan mencegah masalah yang berkaitan dengan pembedahan, anaestesia dan imobilitas.
9.    Rehabilitasi
Pasien yang telah menjalani amputasi memerlukan usaha yang terpadu seluruh tim rehabilitasi.
10.    Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan dirumah
Catatan Materi Musculoskeletal 4.5 5 Rizki Gumilar BAB I PENDAHULUAN 1.1    Latar Belakang Sistem muskuloskeletal bekerja membuat gerkan dan tindakan...


No comments:

Post a Comment

Aturan Berkomentar :

1. Menggunakan bahasa yang sopan
2. Dilarang Berkomentar spam, flood, junk, iklan, sara, sex dsb.(Komentar Akan Saya Hapus)
3. Silahkan gunakan OpenID untuk mempermudah blogwalking

J-Theme