• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Privacy Policy

Makalah Penyakit Emfisema Paru

 

2.1 Pengertian Emphisema Paru
        Emphisema paru didefinisikan sebagai suatau distensi abnormal ruang udara diluar bronkiolus terminal dan kerusakan dinding alveoli. Kondisi ini merupakan tahap akhir proses yang mengalami kemajuan dan lambat selama berberapa tahun. Pada kenyataannya, ketika pasien mengalami gejala, fungsi paru sering sudah mengalami kerusakan ireversibel. Dibarengi bronkhitis obstroksi kronik, kondisi ini merupakan penyebab utama kecacatan.

Merokok merupakan penyebab utama emphisema. Akan tetapi, pada sedikit pasien (dalam persentase yang kecil) terdapat predisposisi familiar terhadap emphisema yang berkaitan dengan abnormalitas protein plasma, defisiensi anti tripsin-a, yang merupakan suatu enzim inhibitor. Tanpa enzim inhibitor ini enzim tertentu akan menghancurkan jaringan paru. Individu yang secara genetik sensitif terhadap faktor-faktor lingkungan (merokok, polusi udara, agen-agen infeksius, alergen dan pada waktunya mengalami gejala-gejala obstruktif kronis. Sangat penting bahwa karier defek genetik ini harus diidentifikasi untuk memungkinkan modifikasi faktor-faktor lingkungan untuk menghambat atau mencegah timbulnya gejala-gejala penyakit konseling genetik juga harus diberikan.

2.2 Patofisiologi
Pada emphisema, beberapa faktor penyebab obstruktif jalan nafas yaitu : inplamasi dan pembengkakan bronki, produksi lendir yang berlebihan, kehilangan rekoil elastik jalan nafas, dan kolaps bronkhitis serta redistribusi udara ke alveoli yang berfungsi. Karena dinding alveoli mengalami kerusakan (suatu proses yang dipercepat oleh infeksi kambuhan), area permukaan alveolar yang kontak langsung dengan kaviler paru secara kontinue berkurang, memnyebabkan peningkatan ruang rugi (area paru dimana tidak ada pertukaran yang dapat tersendat) dan mengakibatkan disfusi oksigen. Kerusakan disfusi oksigen mengakibatkan hipoksemia. Pada tahap akhir penyakit, eliminasi karbondioksida mengalami kerusakan, mengakibatkan peningkatan tekanan karbondioksida dalam darah arteri (disebut hiper kapnea) dan menyebabkan atidosis respiratorika.

Karena dinding alveolar terus mengalami kerusakan, jaring-jaring kaviler pulmonal berkurang. Aliran darah pulmonal meningkat dan pentrikel  kanan dipaksa untuk mempertahankan tekanan darah yang tinggi dalam arteri pulmonal. Dengan demikian, gagal jantung sebelah kanan (korpulmonal) adalah salah satu komflikasi emphisema. Terdapat kongesti, edema tungkai (edema defenden) distensi vena leher atau nyeri pada resionhevar menandakan tersedaknya gagal jantung.

Sekresi meningkat dan tertahan menyebabkan individu tidak mampu untuk membangkitkan batuk yang kuat untuk mengeluarkan sekresi. Infeksi akut dan kronis dengan demikian menetap dalam paru-paru yang mengalami emphisema memperberat masalah.

Individu dengan emphisema mengalami abtroksi kronik (ditandai dengan peningkatan tahanan jalan nafas) kealiran masuk dan aliran keluar udara dari paru-paru dalam keadaan hiper ekspansi kronik. Untuk mengalirkan udara kedalam dan keluar paru-paru, dibutuhkan tekanan negatif selama inspirasi dan tekanan positif dalam tingkat yang adequat harus dicapai dan dipertahankan selama ekspirasi. Posisi selebihnya adalah salah satu inflasi. Daripada menjalani aksi pasif infolunter, ekspirasi menjadi aktif dan membutuhkan upaya otot-otot. Sesak nafas pasien terus meningkat, dada menjadi kaku dan iga-iga terfiksasi pada persendiannya. Dada seperti tong (barrelchest) pada banyak pasien ini tersendat akibat kehilangan elastisitas paru karena adanya kecenderungan yang berkelanjutan pada dindnig dada untuk mengembang.

Pada beberapa kasus, barrelchest tersendat akibat hiposis dimana tulang belakang bagian atas secara abnormal bentuknya menjadi membulat dan cembung beberapa pasien membungkuk kedepan untuk dapat bernafas, menggunakan otot-otot aksesori pernafasan. Relaksi fosa sufiaklavikula yang tersendat pada inspirasi mengakibatkan bahu melengkung kedepan pada penyakit lebih lanjut, otot-otot abdomen juga berkontraksi saat inspirasi. Tersendat penurunan progresif dalam kapasitas vital. Ekskalasi normal menjadi lebih sulit dan akhirnya tidak memungkinkan. Kapasitas vital total (VT) mungkin normal, tetapi rasio dari volume ekspirasi kuat dalam satu detik dalam kapasitas vital (V, : VT) rendah hal ini tersendat karena elastisitas alveoli sangat menurun. Upaya yang dibutuhkan pasien untuk menggerakan udara dari alveoli yang mengalami kerusakan dan jalan nafas yang menyempit meningkatkan upaya pernafasan. Kemampuan untuk mengadaptasi terhadap perubahan kebutuhan oksigenasi sangat terganggu.

2.3 Etiologi
    Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah adalah :
    Kebiasaan merokok
    Polusi udara
    Paparan debu, asap dan gas-gas kimia akibat kerja
    Riwayat infeksi saluran nafas
    Bersifat genetik yaitu defisiensi A, -antitripsin

2.4 Klasifikasi
        Terdapat dua jenis emphisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang tersendat dalam paru-paru: 1) panlobular (panatirar) dan 2) sentrilobular (sentroacinor)
   
Pada jenis panlobular (panatinor) terjadi kerusakan bronkus pernafasan, duktub alveolar, dan alveoli pada bentuk sentribular (centroacinor) perubahan patologi terutama terjadi pada pusat lobus serender, dan porsi periter dari usinus tetap baik. Sering kali terjadi kerusakan kekacauan rasio perkusi/ventilasi yang menimbulkan hipoksia, hiperkopnea (peningkatan CO2 dalam darah arteri), polisitemia dan episode gagal jantung sebelah kanan.

2.5 Manifestasi Klinis
    Dispnea adalah gejala utama emphisema dan mempunyai awitan yang membahayakan. Pasien brosonta mempunyai riwayat merokok, dan riwayat bronki berkronis yang lama, mengikutsertakan peningkatan sesak nafas pendek dan cepat (akpnea). Gejala diperburuk oleh infeksi pernafasan.
   
Pada infeksi pasien biasanya tampak mempunyai barrelchest akibat udara terperangkapnya penipisan masa otot, dan pernafasan dengan bibir dirapatkan. Pernafasan dada, pernafasan abnormal tidak efektif dan penggunaan otot-otot aksesori pernafasan (sternokleidomastoid) adalah umum tersendat. Pada tahap lanjut dispnea tersendat saat aktifitas bahkan pada aktifitas kehidupan seperti makan dan mandi.

    Ketika dada diperiksa, ditemukan hiperekonas dan penurunan remitus ditemukan pada seluruh bidang paru. Auskultasi menunjukan tidak terdengarnya bunyi nafas dan rekles, ronki dan perpanjangan ekspirasi. Kadar oksigen yang rendah (hipoksemia) dan kadar karbondioksida yang tinggi (hiperkapnia) terdapat pada tahap lanjut.
   
Paru yang mengalami emphisematosa tidak berkontraksi saat ekspirasi dan bronkioles tidak dikosongkan secara efektif dari sekresi yang dihasilkan. Anoreksia, penurunan berat badan, dan kelemahan umum terjadi. Vena leher mungkin mengalami distensi selama ekspirasi. Pemeriksaan fisik menunjukan tidak terdengarnya bunyi nafas yang ronki dan ekspirasi memanjang, hipersonas saat perkusi dan penurunan premitus taktil.

2.6 Penatalaksanaan Medis
        Tujuan utama pengobatan adalah untuk memperbaiki kualitas hidup, untuk memperlambat kemajuan proses penyakit, dan untuk memgatasi abstraksi jalan nafas untuk menghilangkan hipoksia. Pendekatan terapetik mencakup :
o    Tindakan pengobatan dimaksudkan untuk memperbaiki ventilasi dan menurunkan upaya bernafas
o    Pencegahan dan pengobatan cepat infeksi
o    Tehnik therapy fisik untuk memelihara dan meningkatkan ventilasi pulmonal
o    Pemeliharaan kondisi lingkungan yang sesuai untuk memudahkan pernafasan
o    Dukungan psikologis
o    Penyuluhan pasien dan rehabilitasi yang berkesinambungan

2.7 Diagnosa Keperawatan
DX 1    : Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan
  ketidaksamaan ventilasi dan perkusi.

Tujuan : Perbaikan dalam pertukaran gas

Intervensi :
    Berikan bronkhocilatos sesuai yang diharuskan
    Evaluasi efektifitas tindakan hebuliser, inhaler dosis teratur atau IPPB
    Intruksikan dan berikan dorongan pada pasien pernafasan diafragmatik dan batuk yang efektif
    Berikan oksigen dengan metoda yang diberikan



DX 2    : Bersihkan jalan nafas tidak efektif yang berhubungan dengan
  bronkokontriksi peningkatan produksi lendir, batuk tidak efektif,
  dan infeksi bronkopulmonal

Tujuan : Pencapaian klinis jalan nafas

Intervensi :
    Berikan pasien 6-8 gelas cairan/hari
    Ajarkan dan berikan dorongan bentuk pernafasan
    Bantu dalam pemberian tindakan hebuliser
    Lakukan drainase postural dengan perkusi dan vibrasi
    Hindari iritan seperti asap rokok
    Berikan anti biotik

DX 3    : Pola pernafasan tidak efektif yang berhubungan dengan nafas
  pendek lendir, bronkokotriksik yang iritan jalan nafas

Tujuan : Perbaikan dalam pola pernafasan

Intervensi :
    Ajarkan pasien pernafasan diafragmatik
    Berikan dorongan untuk menyelangi aktifitas dengan periode istirahat
    Berikan dorongan penggunaan pelatihan otot-otot pernafasan

DX 4    : Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan kelebihan sekunder
akibat peningkatan upaya pernafasan dan insufisiensi, ventilasi dan oksigenasi

Tujuan : Kemandirian dan aktifitas perawatan diri

Intervensi :
    Ajarkan pasien untuk mengkoordinasikan pernafasan diafragmatik dengan aktifitas misalnya (berjalan, membungkuk)
    Berikan pasien dorongan untuk mandi sendiri, berpakaian sendiri, dan berjalan dan minum cairan
    Ajarkan tentang drainase postural bila memungkinkan

DX 5 : Intoleran aktifitas akibat keletihan, hipoksemia dan pola pernafasan
tidak efektif

Tujuan : Perbaikan dalam toleran aktifitas

Intervensi :
    Dukung pasien dalam menegakan regimen latihan teratur dengan menggunakan treadmil dan exercise
    Kaji tingkat pasien yang teratur dan kembangkan rencana latihan berdasarkan fungsi dasar
    Sarankan konsultasi dan ahli terapy fisik untuk menentukan program latihan sepesifik terhadap kemampuan pasien.

DX 6 : Koping individu tidak efektif sehubungan dengan kurang sosialisasi,
arsietas, depresi tingkat aktifitas rendah, dan ketidak mampuan untuk bekerja.

Tujuan : Pencapaian tingkat koping yang normal

Intervensi :
    Mengadopsi sikap yang penuh harapan dan memberikan semangat yang ditujukan pada pasien
    Dorong aktifitas sampai tingkat toleransi gejala
    Ajarkan tehnik relaksasi atau berikan rekomen untuk relaksasi bagi pasien
    Daftarkan pasien pada program rehabilitasi pulmonal bila tersedia.

DX 7 : Defisit pengetahuan tentang prosedur perawatan diri yang akan
dilakukan dirumah

Tujuan : Kepatuhan dengan program terapetik dan perawatan dirumah

    Intervensi :
o    Ajarkan pasien tentang penyakit dan perawatannya
o    Diskusikan keperluan untuk berhenti merokok

Makalah Penyakit Emfisema Paru 4.5 5 Rizki Gumilar 2.1 Pengertian Emphisema Paru         Emphisema paru didefinisikan sebagai suatau distensi abnormal ruang udara diluar bronkiolus te...


No comments:

Post a Comment

Aturan Berkomentar :

1. Menggunakan bahasa yang sopan
2. Dilarang Berkomentar spam, flood, junk, iklan, sara, sex dsb.(Komentar Akan Saya Hapus)
3. Silahkan gunakan OpenID untuk mempermudah blogwalking

J-Theme