• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Privacy Policy

Kebutuhan Gizi yang Baik Untuk Lansia

 



VAKSIN DAN IMUNISASI

Penyakit penyakit infeksi merupakan jenis penyakit yang hampir selalu menempati urutan teratas, terutama di negara-negara berkembang yang taraf kehidupan sosialnya masih dibawah garis yang layak. Keadaan ini antara lain menyangkut pola higiene yang erat hubungannya dengan penularan dan penyebaran penyakit tersebut diatas.
Dewasa ini sudah tersedia pelbagai obat yang ampuh, terutama dari golongan kemoterapi untuk memeranginya. Namun, tujuan utama dari program penanggulangan penyakit infeksi adalah menghindari terjangkitnya infeksi. Hal ini dapat dicapai dengan antara lain:
-          menghilangkan sumber atau memutuskan mata rantai penyebaran suatu penyakit infeksi
-          mengurangi kepekaan seseorang terhadap organisme patogen atau dengan kata lain meningkatkan kekebalannya terhadap infeksi. Ini dapat dicapai dengan proses imunisasi.
Mengurangi kekebalan terhadap penyakit infeksi dapat dicapai dengan dengan jalan imunisasi. Cara ini telah mengubah sejarah banyak jenis penyakit infeksi. Sejak dahulu telah tercatat suatu fenomena, bahwa orang-orang yang luput dari serangan penyakit sampar yang mematikan tidak akan diserang kembali untuk kedua klalinya oleh penyakit ganas ini. Namun pada waktu itu belum dapat ditarik kesimpulan ilmiah mengenai peristiwa ini.

 

Mekanisme terbentuknya imunitas

Dua jenis sel darah putih yang memegang peranan penting dalam sistem imunitas adalah makrofag dan limfosit. Respon imun terhadap suatu antigen dimulai pertama-tama dengan penyerapannya oleh makrofag  yang kemudian menyajikan antigen tersebut kepada limfosit. Tujuan akhir dari kedua jenis imunitas yang secara artifisial dapat ditimbulkan dengan jalan vaksinasi adalah untuk menciptakan perlindungan dari tubuh terhadap antigen atau terhadap mikroba yang membawanya.


Jenis-jenis Imunisasi

·         Imunisasi Aktif

Kekebalan aktif diperoleh sebagai akibat dari infeksi dengan kuman patogen atau dapat juga secara penyuntikan melalui penyuntikan dengan kuman patogen yang mati dilemahkan atau dengan produk metabolismenya. Untuk imunisasi ini digunakan vaksin ( cacar, kolera, pertusis, pes, tbc, rabies, influensa, tiofus, dan poliomoelitis). Begitu pula toksoid ( difteri dan tetanus)yaitu toksin kuman yang dibuat tidak toksis lagi dengan cara kimiawi.
Imunisasi aktif dapat terjadi apabila terjadi stimulus “ sitem imunitas “ yang menghasilkan antibodi dan kekebalan seluler dan beratahan lebih lama dibanding kekebalan fasip. Ada dua jenis kekebalan aktif yaitu kekebalan aktif alamiah dan didafat.
Vaksin kuman
Adalah sediaan aman dari bakteri yang telah dimatikan ( tifus) diperlemah (sampar arau pes) atau ari bakteri yang hidup tidak ganas.( virulen) lagi. Dengan imunisasi aktif ini orang dapat dilindungi terhadap penykit infeksi tertentu.
Vaksin Virus
Suatau cara melemahkan  mikroba dengan jalan pembiakan melelui tubuh pelbagai hewan.
Tujuan Pemberian Vaksin
Adalah merangsang imunitas seluler maupun hormonal seperti yang layaknya timbul sebagi reaksi terhadap suatu infeksi alamiah. Tetapi vaksin menghindarkan efek-efek serius yang diakbatkan oleh mikroa yang virulen penuh. Dengan emikian suatu inveksi yang tidak menentu dan mungkin sekali serius diganti dengan sustu infeksi terkendali dengan gejala ringan atau sama seklai tanpa gejala klinis.
Antibodies ( imunoglobulin)
Yang dibentuk oleh tubuh pada imunisasi aktif diekresikan lebih lambat dari luar sebagai serum ( imunisasi Fasip ). Dengan demikian imunisasi aktif terutam abiala dikehendaki kekebalan yang lama terhadap suatu penyakit. Imunitas ini lazimnya berlangsung beberapa bulan sampai beberapa tahun dapat ditimbulkan kembali dengan penyuntikan ulangan ( Boster ). Tujuan injeksi boster diberikan paling lambat setelah injeksi primer, adalah untuk memperkuat imunitas semula yang telah ditimbulkan.

Penggunaan Sebagai Terapi

Disamping untuk profilaksis, bisa juga digunakan sebagai pengobatan penyakit menahun, misalnya stafilakokus, gonok, dan lainnya, sehingga mendorong tubuh antibodi ekstra terhadap infeksi tersebut.

Vaksin Kombinasi

Selain vaksin khusus juga terdapat vaksin kombinasi untuk mempermudah penggunaannya, Contoh dipteri, pertusis, tetanus ( DPT ), kolera tifus, paratifus ( Kotopia).

Adjuvantia

Disamping antigen diatas vaksin dapat mengandung jat-jat tambahan, larutan untuk mensuspensikan, zat pengawet, antibiotika dan zat stabilisator. Adjunvantia yang dimaksudkan adalh garam laumunium atau kalsium.

·         Imunisasi pasif
1)      Antisera, imunosera atau sera adalah sera hewan yang mengandung antibodi spesifik dalam kadar tinggi. Antisera diperoleh dari penyuntikan suatu antigen tertentu kedalam jaringan suatu ekor hewan ( imunisasi aktif ), yang kemudian membentuk antibodies.
Ada 2 kategori menurut klasifikasi ini, yaitu yaitu kekebalan fasip bawaan ( Passive Conginetal ) dan pasif didapat ( passive acquired ). Kekebalan fasip adalah pemberian kekebalan yang berasal dari hewan atau manusia kepada manusia lain yang tujuannya memberi perlindungan terhadap penyakit infeksi yang bersipat sementara karena kadar anti bodi akan berkurang setelah beberapa minggu atau bulan ( DEPKES, 2000 ). Kekebalan afasip ini terdapat pad neo natus sampai usis 6 bulan, yang didapat dari ibu melalui vaskularisasi pada placenta, misalnya difteri tetanus  dan campak. Anti bodi tersebut dapat melindungi bayi dari penyakit tertentu samapi usia 12 bulan, kekebalan pasip didapat, didapat adri luar, miksalnya gama globulin murni dari darah yang menderita penyakit tertentu, misalnya campak, tetanus, gigitan ular berbisa tau rabies.
Umunya imunisasi ini berupa serum, pemberian serum ini menimbulkan efek samping berupa reaksi atopik, anafilaktik dan alergi, oleh karena itu perlu dilakuakn skintes sebelumnya.
2)      Menurut Lokalisasi Dalm Tubuh
Menurut lokalisai ada 2 jenis imunitas yaitu, hormonal dan seluler, Imunitas hormonal ( Hormonal Immunity ) terdapat dalam imunoglobulin ( Ig) Ig G, A, M.Imunisasi seluler terdiri dari fagositosis dan sel-sel sistem retikulo endotelia. Pada dasarnya imunitas seluler berhubungan dengan kemampuan tubuh untuk menolak benda asing dan dapat ditunjukan dengan alergi kulit terhadap benda asing.

Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi

1.      Tuberkulosis
Penyebab penyakit ini adalah mokobakterium tuberculosis. Apabila seorang anak terkene tuberculosis organ yanag akan terkena adalah paru-paru, kelenjar tulang, endi dan selaput otak. Cara penularannya adalah melalui droplet atau percikan ludah, sedangkan reservoar adalah manusia. Imunisasi yang dapat mencegah penyakit ini adalah BCG. Dampak vaksin BCG paling tidak apabila terkena penyakit akan lebih ringan sehingga menurunkan angka kematian. 
2.      Difteri
Disebabkan oleh korino bacterium difteriae tife gravis, milis, intermedius yang menular melalui percikan ludah yang tercemar. Imunisasi yang diberikan untuk pencegahan penyakit ini adalah DPT, pad anak dibawh 1 tahun ( imuniasi dasar dan DT pada anak kelas 1 dan VI SD atau booster )
3.      Pertusis
Disebabkan oleh bordetella pertusis, penyebaran ellalui droplet. Masyaraakat engenalnya dengan istilah abtuk rejan atau batuk 100 hari. Bahaya dari pertusis adalah pneumoni yang dapat menimbulkan keatian. Imunisasi DPT adaalah salah satu cara pencegahan yang dapat dilakukan karena kekebalan dari ibu tidak bersifat protektif. ( DEPKES, 2000 )
4.      Tetanus
Diseabakan mikobakterium tetani yang berbentuk spora masuk kedalam luka terbuka, berkembang biak secara anaerobik dan membentuk toksin. Imunisasi tidak hanya DPT diberikan pada anak tapi juga TT pad ibu hamil, calon pengantin yang diberrikan saat ante natal care dan Dt pada anak SD klas I dan VI.
5.      Poliomielitis
Penyebab penyakit ini adalah virus polio tipe 1,2,3, yang menyerang mielin ata serabut oto. Penularan penyakit ini melalui droplet atau fekal dan reservoarnya adalh manusia yang menderita folio, imunisasi yang digunakan vaksinasi polio bahkan dapat eradikasi dengan cakupan polio 100 %.
6.      Campak
Penyebab penyakit ini adlah virus morbili yang menular melalui driplet. Imunisasi diberikan pada usia 9 bulan dengan rasional kekebalan dari ibu terhadap penyakit campak akan berkurang sampai usia 9 bulan, komplikasi yang harus dicegah adalah ostitis media, konjungtivitis berat, enteritis, dan peneumonia terlebih pada anak dengan setatus gizi buruk.
7.      Hepatitis B
Disebabkan oleh virus hepatitis tipe b, imunisasi hepatitis B diberikan pad abayi o-11 bulan dengan maksud untuk memutus rantai penularan dari ibu ke bayi.

Cara dan Waktu pemberian Imunisasi

a.       Cara Pemberian
Vaksin
Dosis
Cara Pemberian
BCG
0,05 cc
Intra kutan tepat di insersio muskulus deltoideus kanan
DPT
0,5 cc
Intra moscular
Polio
2 tetes
Diteteskan kemulut
Campak
0,5 cc
Sub kutan biasanya di lengan kiri atas
Hepatitis B
0,5 cc
Inta moscular pad apaha bagian luar
TT
0,5 cc
Intra moscular di muskulus deltoideus


b.      Waktu Pemberian
Vaksin
Pemberian Imunisasi
Selang Waktu Pemberian
Umur Pemberian
Keterangan
BCG
1 kali

0-11 Bulan

DPT
3 kali
4 minggu
2-11 bulan

Polio
4 kali
4 minggu
0-11 bulan

Campak
1 kali

9-11 bulan

Hepatitis B
3 kali
4 minggu
0-11 bulan
Untuk bayi yang lahir di RS atau puskesmas, hep b, BCG dan polio dapat diberikan segera



Kebutuhan Gizi yang Baik Untuk Lansia 4.5 5 Rizki Gumilar VAKSIN DAN IMUNISASI Penyakit penyakit infeksi merupakan jenis penyakit yang hampir selalu menempati urutan teratas, terutama di ...


No comments:

Post a Comment

Aturan Berkomentar :

1. Menggunakan bahasa yang sopan
2. Dilarang Berkomentar spam, flood, junk, iklan, sara, sex dsb.(Komentar Akan Saya Hapus)
3. Silahkan gunakan OpenID untuk mempermudah blogwalking

J-Theme