• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Privacy Policy

ASKEP SKIZOPREN RESIDUAL

 



BAB I

PENDAHULUAN




A. LATAR BELAKANG




Kecenderungan meningkatnya angka gangguan mental psikiatri dikalangan masyarakat saat ini dan yang akan datang akan terus menjadi masalah sekaligus tantangan bagi tenaga kesehatan khususnya komunitas profesi keperawatan.




Krisis multi dimensi telah mengakibatkan tekanan yang berat bagi sebagian besar masyarakat dunia umumnya dan Indonesia pada khususnya, masyarakat yang mengalami krisis ekonomi tidak saja akan mengalami gangguan kesehatan fisik yang berupa gangguan gizi, terserang berbagai penyakit infeksi tetapi juga dapat mengalami gangguan kesehatan mental psikiatri, yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja, kualitas hidup secara nasional, negara telah dan akan kehilangan satu generasi sehat yang akan meneruskan perjuangan dan cita – cita bangsa.




Kecenderungan ( trend ) gangguan mental psikiatri akan semakin meningkat seiring dengan terus berubahnya situasi ekonomi dan politik kearah tidak menentu, prevalensinya bukan saja pada kalangan menengah ke bawah sebagai dampak langsung ketidakmampuan individu dalam penyesuaian diri terhadap perubahan sosial yang terus berubah, hal – hal tersebut diataslah sebagai salah satu pemicu datangnya stress pada masyarakat.




Di Jawa Barat, khususnya di RSJ Cimahi ditemukan berbagai fenomena yang komplek dimana banyak kasus gangguan jiwa yang disebabkan oleh ketidakmampuan individu dalam menghadapi atau mengatasi stress. Kondisi ini dipengaruhi oleh sikap masyarakat yang sebagian besar menganggap hina terhadap penderita gangguan jiwa juga merupakan makhluk bio, psiko, sosial dan spiritual yang mempunyai hak dan keinginan untuk bersosialisasi dalam kehidupannya sehari – hari.




Pemutusan hubungan terkait erat dengan ketidakpuasan individu terhadap proses hubungan yang disebabkan oleh kurangnya peran serta, respon lingkungan yang negatif, kondisi ini dapat mengembangkan rasa tidak percaya diri dan keinginan untuk menghindari orang lain dimana kondisi ini dapat menyebabkan gangguan jiwa seperti skizoprenia













B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman secara nyata dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan isolasi sosial : menarik diri.

2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari penulisan karya tulis ini adalah :

a. Mampu melaksanakan pengkajian secara komprehensif pada klien yang mengalami isolasi sosial : menarik diri.

b. Mampu merencanakan tindakan keperawatan dan melaksanakan implementasinya sesuai dengan masalah yang dialami klien.

c. Mampu mengevaluasi hasil dan intervensi keperawatan yang telah dilaksanakan pada klien dengan isolasi sosial : menarik diri.

d. Mampu mendokumentasikan seluruh proses asuhan keperawatan secara sistematis.




C. Metode Penulisan dan Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan penulis dalam karya tulis ini adalah metode studi kasus yaitu metode deskriptif analitik melalui pendekatan proses keperawatan.

Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara :

1. Observasi

Metode pengumpulan data dimana data dikumpulkan melalui observasi yaitu dengan cara melihat atau mengamati langsung keadaan klien.

2. Wawancara

Metode pengumpulan data dimana penulis mendapatkan data dengan cara menanyakan secara langsung kepada klien, keluarga maupun perawat ruangan.

3. Studi Dokumentasi

Metode pengumpulan data dimana penulis mendapatkan data selain dari wawancara, penulis juga mengumpulkan data yang berada pada catatan status klien yang terdapat di Rumah Sakit Jiwa Cimahi.

4. Studi Keperawatan

Penulis mengambil sumber – sumber yang berkaitan erat atau relevansi dengan masalah yang dihadapi pada klien yaitu isolasi sosial : menarik diri.




D. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pengkajian dalam memahami karya tulis ini penulisan menyusun dalam sistematika sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Menjelaskan tentang latar belakang penulisan, tujuan penulisan, metode penulisan laporan dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN TEORITIS

Berisikan konsep dasar yang terdiri dari pengertian, Psikodinamika, Dampak terhadap kebutuhan dasar manusia, Tinjauan teoritis tentang asuhan keperawatan terdiri dari : Pengkajian, diagnosa keperawatan dan rencana tindakan.

BAB III : TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

A. LAPORAN KASUS

Menjelaskan tentang proses keperawatan yang dilakukan secara nyata dilapangan melalui Pengkajian keperawatan, Diagnosa keperawatan, Perencanaan keperawatan, Pelaksanaan keperawatan, Evaluasi keperawatan dan Catatan perkembangan.

B. PEMBAHASAN

Merupakan analisa terhadap kesenjangan antara teori dan konsep dengan kenyataan yang ada dilapangan.

BAB IV : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN – LAMPIRAN










BAB II

TINJAUAN TEORITIS




A. Konsep Dasar

1. Pengertian

a. Skizoprenia merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai dimana – mana sejak dahulu kala, meskipun demikian pengetahuan kita tentang sebab musabab dan patogenesanya sangat kurang (Maramis W.r : 1998 : 219).

Skizoprenia adalah suatu deskripsi dengan variasi penyebab ( banyak belum diketahui ) dan perjalanan penyakit ( tak selalu besifat kronis atau “ detereorating “ ) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya (Dr. Rusdi Maslim : 2002 : 46).

b. Skizoprenia residual adalah keadaan skizoprenia dengan gejala – gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya agejala – gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan skizoprenia. (Maramis W.r : 1998 : 228).

Skizoprenia residual adalah suatu diagnosis yang meyakinkan dengan gejala ” negatif “ dari skizoprenia yang menonjol, sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizoprenia. (Dr. Rusdi Maslim : 2002 ; 50).

c. Menarik diri adalah suatu tindakan melepakan diri dari alam sekitarnya, individu tidak ada minat dan tidak ada perhatian terhadap lngkungan sosial secara langsung. (Teknik Asuhan Keperawatan Klien Skizoprenia : 2000 : 53).

Prilaku menarik diri merupakan percobaaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain. (Tim Direktorat Kesehatan Jiwa : 2000 : 47).

2. Psikodinamika

a. Faktor predisposisi menurut Gail Wiskard Stuart, Phd. RN, CS, FAAN dan Sandra J Sunden Ms, RN, CN AA ( 1998 ) mengemukakan beberapa faktor predisposisi diantaranya adalah :

1) Faktor perkembangan

Tiap gangguan dalam pencapaian tugas perkembangan akan mencetuskan seseorang sehingga mempunyai masalah respon sosial maladaptif. Sistem keluarga yang terganggu dapat menunjang perkembangan respon sosial maladaptif. Beberapa orang percaya bahwa individu yang mempunyai masalah ini adalah orang yang tidak berhasil memisahkan dirinya dari orang tua. Norma keluarga mungkin tidak mendukung hubungan keluarga dengan pihak lain dari luar keluarga, peran keluarga sering kali tidak jelas, orang tua pecandu alkohol dan penganiayaan anak juga dapat mempengaruhi seseorang berespon sosial maladaptif. Organisasi anggota keluarga bekerjasama dengan tenaga profesional untuk mengembangkan gambaran yang tepat tentang hubungan antara kelainan jiwa dan stress.

2) Faktor biologik

Faktor genetik dapat menunjang terhadap respon sosial maladaptif. Ada bukti terdahulu tentang terlibatnya neurotransmitter dalam perkembangan gangguan ini, namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

3) Faktor sosial kultural

Isolasi sosial merupakan faktor dalam gangguan berhubungan. Ini berakibat dari norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain, atau tidak menghargai anggota masyarakat yang tidak produktif seperti lansia, orang cacat dan berpenyakit kronik. Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma prilaku dan sistem nilai yang berbeda dari kelompok budaya mayoritas. Harapan yang tidak realistik terhadap hubungan merupakan faktor lain yang berkaitan dengan gangguan ini.

b. Faktor Presipitasi

Faktor pencetus pada umumnya mencakup kejadian kehidupan yang penuh stress seperti kehilangan, yang mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas.







Stressor pencetus dapat dikelompokkan dalam kategori :

1) Stressor psikologik

Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi kebersamaan dengan keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya, tuntutan untuk memenuhi kebutuhan. Ketergantungan dapat menimbulkan ansietas tinggi.

2) Stressor sosio kultural

Maksud dari stressor sosio kultural adalah stress yang dapat ditimbulkan oleh menurunnya stabilitas unit keluarga dan berpisah dari orang yang berarti dalam kehidupannya. Misalnya karena dirawat di Rumah Sakit.

3) Stressor sosial budaya

Keadaan kelurga yang labil, berpisah dari orang tua yang berarti, merupakan stressor yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya.

4) Stressor biologik lingkungan sosial

Tubuh akan menggambarkan ambang toleransi terhadap stressor, dan biasanya terjadi dengan stressor yang berasal dari lingkungan.

3. Tanda dan gejala

Dalam buku “ Standar suhan Keperawatan Kesehatan Jiwa “ yang disusun oleh Tim Direktorat Jiwa (2000 : 47 – 48) tanda dan gejala dari perilaku menarik diri diantaranya :

a. Gangguan pola makan : tidak nafsu makan atau makan berlebihan.

b. Berat badan menurun atau meningkat secara drastis.

c. Kemunduran kesehatan fisik.

d. Tidur berlebihan.

e. Tinggal di tempat tidur dalam waktu lama.

f. Banyak tidur siang.

g. Kurang bergairah.

h. Tidak memperdulikan lingkungan.

i. Kegiatan menurun.

j. Imobilisasi.

k. Mondar-mandir atau sikap mematung, melakukan gerakan secara berulang-ulang.

l. Keinginan sexual menurun.

4. Dampak Isolasi sosial ; menarik diri terhadap kebutuhan dasar manusia.

a. Kebutuhan aktifitas sehari-hari

Mekanisme pertahanan diri yang tidak efektif menyebabkan individu menarik diri dari lingkungan sehingga menurunkan keinginan individu untuk melakukan aktivitas dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

b. Kebutuhan nutrisi

Tidak semua klien dengan gangguan-gangguan jiwa mengalami pemenuhan kebutuhan nutrisi walaupun ada hal ini timbul karena klien selalu asik dengan dunia fantasinya. Hal ini terjadi pada klien dengan gangguan perubahan sensori persepsi : halusinasi, karena klien asik dengan halusinasinya sehingga mengabaikan kebutuhan dasarnya yang secara tidak disadari kebutuhan tersebut sangatlah penting sehingga muncul gangguan dasar tersebut.

c. Kebutuhan eleminasi

Demikian halnya seperti kebutuhan dasar lainnya klien mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan eleminasi disebabkan karena klien dengan isolasi sosial : menarik diri selalu asik dengan dunianya sehingga tanpa disadari klien BAB/BAK ditempat yang bukan tempatnya.

d. Kebutuhan perawatan diri.

Klien dengan gangguan jiwa hampir semuanya mengalami defisit perawatan diri hal ini disebabkan karena ketidaktahuan dan ketidakberdayaan yang berhubungan dengan keadaannya sehingga terjadilah defisit perawatan diri.

e. Kebutuhan istirahat tidur

Pada klien dengan gangguan kelainan jiwa ada kalanya mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur, sehingga lupa istirahat, atau karena terlalu asik alam perasaannya dimana terjadi gangguan emosi yang disertai gejala mania atau depresi begitu pula klien dengan isolasi sosial : menarik diri kebutuhan istirahatnya terganggu.

f. Kebutuhan rasa aman

Dengan adanya perasaan rendah diri, merasa dirinya tidak berharga dan tidak berguna dapat menyebabkan individu merasa tidak aman dalam membina hubungan dengan orang lain.

g. Kebutuhan mencintai dan dicintai

Individu tidak dapat mencintai orang lain karena adanya perasaan takut tidak diterima atau ditolak.

h. Kebutuhan harga diri

Akibat yang ditimbulkan dari menarik diri dapat menurunkan harga diri individu tersebut.

i. Kebutuhan aktualisasi diri

Adanya kegagalan - kegagalan yang dialami individu dalam meraih cita - cita dapat berakibat buruk terhadap aktualisasi diri.

B. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Proses keperawatan telah diidentikan sebagai metode ilmiah keperawatan untuk para penerima tindakan. (Townsend Marry C : 1998 : 10).

Proses keperawatan terdiri dari 5 tahap yaitu pengkajian, analisa masalah atau diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. (Townsend. Marry C. : 1998 : 11).

Masalah kesehatan dapat berhubungan dengan klien, keluarga, orang terdekat atau masyarakat. Proses keperawatan mendokumentasikan kontribusi perawat dalam mengurangi atau mengatasi masalah – masalah kesehatan jiwa. Pada klien isolasi sosial ; menarik diri dalam melakukan proses keperawatan melalui 5 tahap yaitu :










1. Pengkajian

a. Pengumpulan data

1) Identitas klien yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status marital, agama, suku bangsa, no RM, tanggal masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medis.

2) Identitas penanggung jawab yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, hubungan dengan klien.

b. Alasan masuk

Alasan masuk yaitu alasan yang menyebabkan klien dibawa ke Rumah Sakit.

c. Faktor predisposisi

1) Perlu ditanyakan apakah sebelumnyaklien pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu.

2) Bila klien pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu maka tanyakan bagaimana hasil pengobatan sebelumnya, apakah berhasil, kurang berhasil, tidak berhasil.

3) Perlu ditanyakan pada klien apakah klien pernah melakukan, mengalami atau menyaksikan penganiayaan fisik, seksual, penolakandari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal.

4) Perlu ditanyakan pada klien dan keluarga apakah ada anggota lainnya yang mengalami gangguan jiwa.

5) Perlu ditanyakan kepada klien atau keluarga tentang pengalamanyang tidak menyenangkan ( kegagalan, kehilangan atau perpisahan, kematian, trauma selama tumbuh kembang ) yang pernah dialami klien pada masa lalu.

d. Fisik

1) Tanda – tanda vital : tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan klien.

2) Tinggi badan dan berat badan klien

e. Psikososial

1) Genogram

Buatlah genogram minimal 3 generasi yang dapat menggambarkan hubungan klien dengan keluarga.

2) Konsep diri

a) Citra tubuh

Perlu ditanyakan persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian tubuh yang disukai dan tidak disukai.

b) Identitas diri

Perlu ditanyakan status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan klien terhadap status dan posisinya, kepuasan klien sebagai laki – laki atau perempuan.

c) Peran

Perlu ditanyakan pada klien tugas atau peran yang diemban dalam keluarga atau kelompok atau masyarakat, kemampuan klien dalam melaksanakan tugas atau peran tersebut.

d) Ideal diri

Perlu ditanyakan pada klien mengenai harapan – harapan.

e) Harga diri

Perlu ditanyakan mengenai penilaian atau penghargaan orang lain terhadap diri dan kehidupannya.

f. Hubungan sosial

1) Tanyakan kepada klien siapa orang terdekat dala kehidupannya, tempat mengadu, tempat bicara, minta bantuan atau sokongan.

2) Tanyakan pada klien kelompok apa yang diikuti dalam masyarakat.

3) Tanyakan pada klien sejauh mana ia terlibat dalam kelompok dimasyarakat.

g. Spiritual

1) Nilai dan keyakinan

Tanyakan tentang pandangan dan keyakinan klien mengenai gangguan jiwa sesuai dengan norma budaya dan agama yang dianut.

2) Kegiatan ibadah

Tanyakan pendapat klien tentang kegiatan ibadah.




h. Status mental

1) Penampilan

Didapat melalui hasil observasi perawat atau keluarga.

a) Penampilan tidak rapih, jika dari ujung rambut sampai ujung kaki ada yang tidak rapih.

b) Penggunaan pakaian tidak sesuai.

c) Cara berpakaian tidak seperti biasanya, jika penggunaan pakaian tidak tepat.

2) Pembicaraan

a) Amati pembicaraan yang ditemukan pada klien apakah cepat, keras, gagap, membisu, apatis atau lembut.

b) Bila pembicaraan berpindah – pindah dari satu kalimat ke kalimat lain yang tidak ada kaitannya dimasukkan ke kotak inkoheren.

3) Aktivitas motorik

Bisa didapatkan melalui hasil observasi perawat atau keluarga.

a) Lesu, tegang, gelisah sudah jelas.

b) Agitasi : gerakan motorik yang menunjang kegelisahan.

c) Tik : gerakan – gerakan kecil pada otot muka yang tidak terkontrol.

d) Grimasen : gerakan otot muka yang berubah – ubah yang tidak dapat dikontrol oleh klien.

e) Tremor : jari – jari yang tampak gemetar ketika klien menjulurkan tangan dan merentangkan jari – jari.

f) Kompulsif : kegiatan yang dilakukan berulang – ulang.

4) Alam perasaan

Data ini didapat melalui hasil observasi perawat atau keluarga :

a) Sedih, putus asa, gembira yang berlebihan sudah jelas.

b) Ketakutan : objek yang diakui sudah jelas.

c) Khawatir : objeknya belum jelas.

5) Afek

Data didapatkan melalui hasil observasi perawat atau keluarga :

a) Datar : tidak ada perubahan roman muka pada saat ada stimulus yang menyenangkan atau menyedihkan.

b) Tumpul : Hanya bereaksi bila ada stimulus emosi yang kuat.

c) Labil : emosi yang cepat berubah – ubah.

d) Tidak sesuai : emosi yang tidak sesuai atau bertentangan dengan stimulus yang ada.

6) Interaksi selama wawancara

Data ini didapat melalui hasil wawancara dan observasi perawat atau keluarga.

a) Bermusuhan, tidak kooperatif, mudah tersinggung sudah jelas.

b) Kontak mata kurang : tidak menatap lawan bicara.

c) Defensif : selalu berusaha mempertahankan pendapat dan kebenaran dirinya.

d) Curiga : menunjukkan sikap atau perasaan tidak percaya pada orang lain.

7) Persepsi

a) Jenis – jenis halusinasi sudah jelas.

b) Jelaskan isi halusinasi, frekuensi gejala yang tampak pada saat klien berhalusinasi.

8) Proses pikir

Data diperoleh dari observasi pada saat wawancara.

a) Sirkumansial : pembicaraan yang berbelit – belit tapi sampai pada tujuan pembicaraan.

b) Tangensial : pembicaraan yang berbelit – belit tapi tidak sampai pada tujuan.

c) Kehilangan asosiasi : pembicaraan tidak ada hubungan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya dan klien tidak menyadarinya.

d) Flight of ideas : pembicaraan yang meloncat dari satu topik ke topik lainnya, masih ada hubungan yang tidak logis dan tidak sampai pada tujuan.

e) Blocking

Pembicaraan terhenti tiba – tiba tanpa gangguan eksternal kemudian dilanjutkan kembali.

f) Perseverasi : pembicaraan yang diulang berkali – kali.

9) Isi Pikir

Data didapatkan melalui wawancara.

a) Obsesi : pikiran yang selalu muncul walaupun klien berusaha menghilangkannya.

b) Phobia : ketakutan yang patologik atau tidak logis terhadap objek atau situasi tertentu.

c) Hipokondria : keyakinan terhadap adanya gangguan organ dalam tubuh yang sebenarnya tidak ada.

d) Depersonalisasi : perasaan klien yang asing terhadap diri sendiri, orang lain atau lingkungan.

e) Ide yang terkait : keyakinan klien terhadap kejadian yang terjadi dilingkungan yang bermakna dan terkait pada dirinya.

f) Pikiran magis : keyakinan klien tentang kemampuannya melakukan hal – hal yang mustahil atau diluar kemampuannya.

g) Waham : keyakinan klien terhadap ide – ide pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan, tidak dapat dirubah dengan logika atau bukti – bukti yang nyata.










10) Tingkat kesadaran

Data tentang bingung dan sedasi diperoleh melalui wawancara dan observasi, stupor diperoleh melalui observasi, orientasi klien ( waktu, tempat, orang ) diperoleh melalui wawancara :

a) Bingung : tampak bingung dan kacau.

b) Sedasi : mengatakan merasa melayang – layang antara sadar dan tidak sadar.

c) Stupor : gangguan motorik seperti kekakuan, gerakan – gerakan yang diulang – ulang, anggota tubuh klien dapat diletakkan dalam sikap canggung dan dipertahankan klien, tapi klien mengerti semua yang terjadi di lingkungan.

d) Orientasi waktu, tempat dan orang.

11) Memori

Data diperoleh melalui wawancara.

a) Gangguan daya ingat jangka panjang : tidak dapat mengingat kejadian yang terjadi lebih dari satu bulan.

b) Gangguan daya ingat jangka pendek : tidak dapat mengingat kejadian yang terjadi dalam minggu terakhir.

c) Gangguan daya ingat saat ini : tidak dapat mengingat kejadian yang baru saja terjadi.

d) Konfabulasi : pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan dengan memasukan cerita yang tidak benar untuk menutupi gangguan daya ingat.

12) Tingkat konsentrasi dan berhitung

Data diperoleh melalui wawancara.

a) Mudah dialihkan : perhatikan klien mudah berganti dari satu objek ke objek lain.

b) Tidak mampu berkonsentrasi : klien selalu meminta agar pertanyaan di ulang atau tidak dapat menjelaskan kembali pembicaraan.

c) Tidak mampu berhitung : tidak dapat melakukan penambahan atau pengurangan pada benda – benda yang nyata.

13) Kemampuan penilaian

a) Gangguan kemampuan penilaian : dapat mengambil keputusan yang sederhana dengan bantuan orang lain.

b) Gangguan kemampuan penilaian bermakna : tidak mampu mengambil keputusan walaupun dibantu orang lain.

14) Daya tilik diri

Data diperoleh dari wawancara.

a) Mengingkari penyakit yang diderita : tidak menyadari gejala penyakit ( perubahan fisik, emosi pada dirinya dan merasa tidak perlu pertolongan.

b) Menyalahkan hal – hal di luar dirinya : menyalahkan orang lain atau lingkungan yang menyebabkan kondisi saat ini.




i. Kebutuhan persiapan pulang

1) Makan

a) Observasi dan tanyakan tentang : frekuensi, jumlah, variasi, macam ( suka atau tidak suka atau pantang ) dari cara makan.

b) Observasi kemampuan klien dalam menyiapkan dan membersihkan alat makan.

2) BAB/BAK

a) Observasi kemampuan klien untuk BAB/BAK :

Pergi, menggunakan dan membersihkan WC.

Membersihkan diri dan merapihkan pakaian.

3) Mandi

a) Observasi dan tanyakan tentang frekuensi, cara mandi, menyikat gigi, cuci rambut, gunting kuku, cukur kumis, jenggot dan rambut.

b) Observasi kebersihan tubuh dan bau badan.

4) Berpakaian

a) Observasi kemampuan klien dalam mengambil, memilih dan mengenakan pakaian dan alas kaki.

b) Observasi penampilan dandanan klien.

c) Tanyakan dan observasi frekuensi ganti pakaian.

d) Nilai kemampuan yang harus dimiliki klien : mengambil, memilih dan mengenakan pakaian.

5) Istirahat tidur

Observasi dan tanyakan tentang : lama dan waktu tidur siang atau malam.

6) Penggunaan obat

Observasi dan tanyakan kepada klien dan keluarga tentang penggunaan obat.

7) Pemeliharaan kesehatan

Tanyakan kepada klien dan keluarga tentang apa sistem pendukung yang dimiliki.

8) Aktivitas di dalam rumah

Tanyakan kemampuan klien dalam melakukan aktivitas di dalam rumah.

9) Aktivitas diluar rumah

Tanyakan kemampuan klien dalam melakukan aktivitas diluar rumah.

j. Asfek medis

Tuliskan diagnosa medik klien telah dirumuskan oleh dokter yang dirawat. Tuliskan obat – obatan klien saat ini, baik obat fisik, psikofarmaka dan therapi lain.

k. Masalah keperawatan yang mungkin muncul.

1) Isolasi sosial : menarik diri.

2) Perubahan persepsi.

3) Harga Diri Rendah ( HDR ).

4) Defisit perawatan diri.

5) Resiko tinggi penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif.

l. Pohon masalah

Gangguan isolasi sosial ( Rasmun : 2001 : 42 )

Perubahan persepsi : Pendengaran

isolasi sosial : menarik diri

harga diri rendah

2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul ( Rasmun : 2001 : 42 ).

a. Isolasi sosial : menarik diri berhubung harga diri rendah.

b. Perubahan persepsi : halusinasi berhubung menarik diri.

c. Defisit perawatan diri berhubung intoleransi aktivitas.

d. Resiko tinggi penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif berhubung kurang pengetahuan keluarga






BAB III
LAPORAN KASUS DAN PEMBAHASAN


A. Laporan Kasus
1. Pengkajian


a. Identitas


1) Identitas Klien


Nama : Tn. Y


Umur : 27 Thn


Alamat : Kp Cihuni Ds Suka Mulya Rt/Rw : 03/06 Kec Tegal Waru Kab. Purwakarta.


Jenis Kelamin : Laki-laki


Status marital : Belum kawin


Pekerjaan : Tidak bekerja


Suku Bangsa : Sunda


Agama : Islam


Tanggal masuk : 31 Juli 2003 Pkl 14.30 Wib


Tanggal pengkajian : 1 Agustus 2003 Pkl 14.00 Wib


No. Reg : 010 821


2. Identitas Penanggung Jawab


Nama : Tn U


Umur : 50 Thn


Alamat : Kp.Cihuni Ds.Suka Mulya Rt/Rw 03/06


Kec.Tegal Waru Kab.Purwakarta.


Jenis Kelamin : laki – laki


Pekerjaan : Buruh


Pendidikan : SD


Hub dengan klien : Ayah


b. Alasan Masuk


Menurut penuturan klien dan keluarga, sehari sebelum masuk RSJ klien mengurung diri didalam kamar dan tidak mau makan juga selalu menolak bila diajak ngobrol. Pada malam harinya klien mengamuk. Karena khawatir, pada pagi harinya klien dibawa oleh keluarganya ke RSJ Cimahi. Setelah diperiksa klien dinyatakan harus dirawat inap. Pada saat pengkajian pada tanggal 1 Agustus 2003 pukul 14.00 Wib klien nampak sedang tiduran ditempat tidurnya dan pada saat ditanya klien selalu menundukkan pandangannya, nampak sering bengong, klien pun mengatakan bahwa ia tidak suka mengobrol dan klien lebih senang menyendiri. Klien mengatakan pada saat dirumah klien mendengar suara yang menyuruhnya untuk berlari – lari dan tidak boleh makan. Suara itu terdengar menjelang malam hari, 1 kali dalam sehari menjelang malam tepatnya setelah adzan maghrib, tetapi selama di RSJ klien tidak lagi mendengar suara itu.


a. Faktor Predisposisi


Menurut penuturan klien dan keluarga, klien masuk RSJ sudah yang ketiga kalinya, pertama klien mengalami gangguan jiwa pada usia 17 tahun, gejala pertama yang klien alami, klien mengamuk dan merusak barang – barang rumah tangga, keluyuran keluar rumah pada malam hari, lalu klien dibawa ke RSJ dan dirawat selama 1 bulan lebih 10 hari lalu klien dirawat jalan, karena pengobatan tidak tuntas pada tahun 2000 klien mengamuk, merusak kendaraan milik tetangganya, bicara kacau lalu klien dirawat lagi di RSJ selama ± 1 bulan, kali ini pengobatan klienpun tidak tuntas akhirnya pada tanggal 31 Juli 2003 pukul 14.30 Wib klienpun dinyatakan harus dirawat lagi karena mengurung diri didalam kamarnya, menolak untuk makan, merusak perabotan rumah dan bicara kacau. Klien mengatakan sekolahnya sampai SD, klien pernah dipecat dari pekerjaannya dan klienpun merasa malu karena klien merupakan anak yang paling besar dalam keluarganya dan mempunyai adik 7 orang yang masih kecil – kecil.


Masalah keperawatan : Harga Diri Rendah.


b. Pemeriksaan Fisik


1) Tanda vital


Tekanan darah : 120/90 mmHg


Nadi : 96 x/menit


Respirasi : 24 x/menit


Suhu : 36,5°C


TB : 160 Cm


BB : 49Kg


Keluhan Fisik : Tidak ada keluhan.

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah




ASKEP SKIZOPREN RESIDUAL 4.5 5 Rizki Gumilar BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kecenderungan meningkatnya angka gangguan mental psikiatri dikalangan masyarakat saat ini dan yang ak...


No comments:

Post a Comment

Aturan Berkomentar :

1. Menggunakan bahasa yang sopan
2. Dilarang Berkomentar spam, flood, junk, iklan, sara, sex dsb.(Komentar Akan Saya Hapus)
3. Silahkan gunakan OpenID untuk mempermudah blogwalking

J-Theme